HUTANG pemerintah Indonesia terhadap China mencapai USD 28,2 atau sekitar Rp 366.000 triliun setara dengan 100 kali utang luar negeri. Padahal pemerintahan yang baru berjalan satu tahun.
Sekretaris jenderal PP Pemuda Pemuda Umat Islam (PUI), Kana Kurniawan menilai sikap pemerintah Indonesia melunak pasca mendapat pinjaman dana dari China. Seperti serbuan tenaga kerja dari Tiongkok saat PHK karyawan melonjak.
“Hutang itu fantastis dan sangat tidak wajar. Ini bentuk perang asimetris China, tapi kita tidak mengukur kekuatan. Kita tidak mau jika kemudian pemerintahan sekarang mewariskan hutang besar. Kita harus berdikari dan berdaulat secara ekonomi maupun kebijakan,” ujar Kana Kurniawan dalam diskusi bulanan di Sektretariat Pemuda PUI, Sabtu (10/10).
Sementara itu, staf ahli Komisi I, Arya Sandiyudha mengingatkan kembali bahwa presiden Soekarno melaui Tri Saktinya harus terus dijaga oleh bangsa Indonesia, termasuk pemerintah Jokowi.
“Jargon berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkpribadian dalam budaya, harus menjadi nafas kebijakan pemerintah. Ini negara besar, bukan milik golongan tertentu. China itu bermain secarasoft, bukan militer. Indonesia harus waspada. Tidak tergadaikan atas nama bantuan.”
Arya menekankan, pemerintah untuk membuat aliansi politik dengan negara sahabat terdekat lebih kokoh. Aliansi yang tidak terkontrol secara baik, akan bermuatan ideologis akan sangat berbenturan dengan ideologi negara dan bangsa.
“China itu kuat secara ekonomi, tapi harus berhati-hati juga. Tidak sembrono, harus hapal peta mereka,” pungkasnya. [rn/Islampos]




